Leave Me Alone

Aku adalah Diam

Sesuatu Yang Tak Pernah Kumiliki

Anjing malu banget sebenernya mau nulis beginian, tapi ya gimana, nulis adalah pelarian terbaiku, selain ngobrol tentunya. Sudah lama ga nulis di blog, ini butuh niat yang sungguh sungguh ditambah perasaan yang hancur lebur, harusnya sih tulisan ini bisa kelar. Semoga

Ceritanya, aku mengenal sosok perempuan depresi kala itu, awalnya hanya niat untuk berkenalan dan buat sharing sebagai sesama sobat depresi. Pembicaraan kami selalu menyenangkan, menenangkan, dan membahagiakan, setidaknya untukku, aku merasa seperti itu. Gatau dia.

Pembahasaan kami selalu diiringi tawa, walaupun ketawa dia aneh pake wkwkw gitu yang ga terlalu relate with me. Akupun selalu membuat skenario pembicaraan di dalam kepala sebelum benar benar mengajaknya ngobrol lewat WA. Pembicaraan kami gak pernah serius, bahas soal kesehatan mental pun juga sering, tapi gak se serius dan se intens niat awalnya. Kebanykan ngobrol gajelas, tapi menyenangkan, menenangkan, dan membahagiakan. Setidaknya bagiku, belum tentu dia.

Aku mengenalnya di bulan Mei akhir, melalui Pesan Langsung di Instagram, dia tiba tiba langsung kasih nomer WA nya tanpa aku minta, dia bilang dia jarang buka Instagram. Akupun awalnya ga berniat akan sedekat ini. Bagiku, aku ngerasa deket dan relate, belum tentu dia, mungkin tidak. Ah, bodoh.

Awalnya, kami memang ga pernah menceritakan kami kenapa, kami ada gangguan apa dengan mental masing masing, awalnya kami memang hanya membahas soal support group (salah satu mimpiku) untuk orang orang Depresi dan Dengan Gangguan Jiwa lainnya, di mana di wadah itu kami (seharusnya) bisa berkumpul, sharing, cerita apapun pengalaman dan kesedihan yang kami rasakan maupun lewati. Awalnya, memang itu mimpi dan tujuanku, gatau kalau dia. Mungkin enggak. Mungkin dia cuma ngerasa ga enak sama aku aja, makanya mau aja ngeladenin. Sedangkan aku? Aku sangat bodoh menganggap aku akan berbagi mimpi yang sama dengannya. Sangat sangat bodoh, aku memang sebodoh itu soal mimpi dan harapan.

Di suatu waktu, tepat di pukul setengah tiga pagi, kami masih terjaga dan masih membicarakan banyak hal bodoh yang menyenangkan, hingga semua itu berhenti pada suatu perasaan, perasaan yang sangat tidak familiar bagiku, entah datangnya dari mana, perasaan yang tidak bisa aku deskripsikan rasanya, di kala itu, aku sedikit menyadari dan meyakinkan, kalau perasaan itu adalah rasa suka dan cinta, karena bagiku, rasa itu sangat familiar, dan ketika itu tidak bisa dideskripsikan dengan baik olehku, maka bagiku itu adalah rasa Cinta, tepat pukul 3 pagi, dalam kurun waktu yang cukup lama, aku tidak memikirkan kematian, tetapi aku merasakan kehangatan, mungkin itu Cinta.

Mungkin Cinta, tapi sebetulnya aku gak pernah tau rasa sesungguhnya Cinta itu seperti apa.

Saat saat itu cukup menyenangkan, karena setiap bangun tidur, aku masih bisa membaca hasil obrolan yang menenangkan melalui sisa pesan terakhir di Whatsapp. Aku yang rapuh ini, selalu berkeluh kesah sama dia, akhirnya aku ada teman bicara yang merasakan benar apa yang aku rasakan juga, banyak sekali mekanisme koping yang selalu dia kasih ke aku, dan itu membuatku tenang dan hangat. Padahal, bagiku, mekanisme koping atau penyembuhan depresi paling ampuh adalah dengan membicarakannya, dengan membicarakan tentang perasaan dan pikiran, aku merasa aku tidak lagi sendiri, aku ada yang menemani, kami bersama sama melewati masa itu. Seharusnya seperti itu, atau setidaknya, aku merasa seperti itu, gatau kalau dia. Mungkin belum tentu.

Saat saat itu juga aku selalu waswas, dan seolah tau dan menyadari kalau dia sebenarnya tidak menyukai ku juga. Jadi, ini adalah jatuh cinta yang tidak berbunga bunga, justru sebaliknya, semuanya masih abu abu di depan kelopak mataku.

Hal yang paling lucu adalah, aku belum pernah bertemu dengan dia secara tatap mata langsung. Beberapa kali janjian untuk ketemuan, selalu gagal, seolah semesta tidak mendukung kalau kata Fiersa Besari. Lantas, bagaimana bisa aku jatuh Cinta dengan seseorang yang belum pernah kutemui sebelumnya?

Aku jatuh cinta di dalam pembicaraan, hangatnya perhatian dan kehadiran. Aku jatuh cinta dengan cara berpikirnya, cara dia merespon semua kalimatku, cara dia menenangkanku, bahkan, aku jatuh cinta dengan cara dia berdamai dengan dirinya sendiri. Bagiku itu sangat sulit, dan dia bisa melewati dan menjalani itu.

Aku jatuh cinta dengan kata katanya, aku jatuh cinta dengan pikirannya, aku jatuh cinta dengan kehangatannya.

Dia suka sekali memberikanku rekomendasi musik yang menenangkan, musik yang sebelumnya aku belum pernah denger, sampai akhirnya musik itu bisa membuatku tidur.

Hingga di suatu hari, diriku mempertanyakan perasaan ini, apakah sebenarnya dia merasakan apa yang aku rasakan juga?

Ternyata tidak.

Saat itu, dia berubah menjadi sosok yang beda, atau aku saja yang tidak mengenalnya lebih dalam. Saat itu, aku mulai berasumsi bahwa dalam perasaan ini, hanya aku yang memilikinya, dia tidak. Dia tidak sama sekali. Dari awal, semua ini memang kesalahan, aku jatuh cinta kepada orang yang salah. Dia tidak mencintaiku balik. Aku tau, dimulai dari pembicaraanku yang mulai gajelas, tetapi dia tidak terlihat tertarik lagi, tidak seperti biasanya. Mungkin aku sudah melanggar “batas” yang dia beri, dan dia menyadari perasaanku, dan dia memilih menjauh. Asumsiku seperti itu, dan sepertinya memang faktanya juga seperti itu, semuanya terasa jelas. Sebenarnya dari awal, dia memang tidak tertarik terhadapku.

Terus, kenapa masih meladeni ku hingga aku memiliki perasaan yang tidak seharusnya?

Itu adalah pertanyaan yang tidak bisa kutemukan jawabannya.

Dia sangat berubah, terlihat sekali dia tidak menyukaiku. Hal ini yang memutuskanku untuk berpikir, aku harus berhenti di sini, sebelum semuanya tambah menyakitkan.

Bagiku, sangat susah untuk bisa berteman dekat dengan perempuan, begitu udah deket, begitu udah suka, eh dianya gak suka. Salahku di mana sih sebenernya? Apa karena gendut? Apa karena jele? Atau karena punya masalah dengan kesehatan mental? Atau karena jele jadi semuanya salah? Gitu ya? Tolong dong, seseorang jelaskan apa yang sebenernya terjadi di sini.

Padahal, dalam bayangan fantasiku, aku sudah menyiapkan banyak tulisan dan lagu bahagia tentang romansa untuk nanti ketika aku di dalam suatu hubungan, tapi nyatanya, aku memang tidak pernah berada di posisi itu hingga kini. Yang bisa kutulis dan kunyanyikan hanyalah kesedihan.

Tapi, aku tidak menyalahkan dia, dan tidak akan pernah. Aku menyalahkan perasaan dan diriku yang begitu bodoh tidak melihat ada jurang besar yang kulompati, lalu aku tidak sampai di tepi ujung satuya, sial, aku terjatuh di dalam jurang.

Aku Jatuh Cinta Terhadap Seseorang Yang Tidak Akan Pernah Kumiliki.

Rasanya, dadaku sesak sekali, nafasku memburu, pikiranku tertuju pada ragu. Semuanya jadi satu. Aku merasakan seperti terbakar di dada, tertusuk di dada, dan bernafas dengan jantung yang bocor, sakit, menyedihkan.

Diriku memang menyedihkan. Memang tidak ada seseorangpun yang menyukai dan mencintaiku. Bahkan diriku saja membenci dirinya sendiri.

Semoga aku lekas mati, aku tidak ingin merasakan patah hati lagi.

Samarinda
6 Juli 2019

Advertisements

Abu Yang Memendam Dendam

Ada asap hitam tebal yang bergumul hebat sejak 2 jam lalu, banyak teriakan kudengar di sekitar sana, melihat apa yang sedang terjadi, mereka semua sedang bersedih, melihat api yang begitu membara.

Ya, kepalaku sedang terbakar. Dan tak ada seseorang pun menyiramkan air kepada api saat ini. Mereka menonton, mereka menangis seolah sedih, mereka menikmati kesedihan yang diberikan api tanpa memberikan pertolongan dengan menyiramkannya air.

Kepalaku terbakar hebat, membakar semua ruang pikiran bahkan hingga ke sudut perasaan hingga akhirnya dia padam dengan sendirinya, lalu menjadi abu.

Kemudian…

Semua gelap, hening dan sepi, hanya ada sinar bulan yang menyinari abu.

01.54
Samarinda, 24 April 2019

 

 

 

 

 

 

Selamatkan Temanmu dari Depresi dan Bunuh Diri

Dimulai dari mana ya sebaiknya tulisan ini duh. Sebenernya ini adalah salah satu kegelisahan saya dari lama, yaitu Suicidal Thoughts (Pikiran untuk Bunuh Diri) dan Bunuh Diri itu sendiri. Mungkin hampir semua orang di Quarter Life Crisis punya pikiran serupa, namun kadarnya saja yang berbeda beda.

Beberapa waktu yang lalu, di jagad Twitter sedang dihebohkan dengan kasus bunuh diri seorang remaja di Tangerang. Beritanya bisa di baca di sini

Yang miris adalah beberapa tweet terakhir dari korban seperti ini salah satunya:

1

Dan yang paling menyedihkan lagi dan membuat hati saya sakit adalah komen komen beberapa orang terakait kasus ini, menyedihkan, sangat sangat menyedihkan.

2

“kenapa ga instastory dulu”
“selfie dulu sebelum mati”

Dan berbagai macam komen lainnya.

Kenapa ya masyarakat Indo tuh kejam kejam banget? Sedih tau ga

Campaign Kesehatan Mental dan Kesadaran Bahaya Bunuh Diri gak akan bisa berkembang kalau stigma stigma buruk tentang hal ini terus ada di Masyarakat. Stigma ini harus dihapus. Salah satu stigma buruk mengatakan orang Depresi dan memiliki keinginan untuk bunuh diri itu orang yang jauh dari agama dan Tuhan nya. Tidak, Depresi bisa menyerang siapa saja. SIAPA SAJA.

Saya mau membahas beberapa tanda seseorang mempunyai pikiran untuk bunuh diri. Berikut.

1.Merasa “Terkurung” dan Kesepian. Dia akan merasa terkurung oleh dirinya sendiri, oleh pikirannya sendiri, oleh perasaannya sendiri. Dia merasa sendiri melewati semua itu, dia merasa sangat sepi di dalam kesehariannya. Sepi dalam artian, tidak ada seorang pun yang bisa dia ajak bicara, tidak ada seorang pun yang memberi dia support. Tidak ada seorang pun yang membantunya melewati masa gelap itu.

2.Merasa tidak punya masa depan. Dia akan selalu berbicara bahwa dia tidak bisa melihat masa depan lagi di hidupnya, serasa benar benar hidupnya berhenti hanya sampai di saat itu.

3.Menarik diri dari lingkungan sosialnya. Dia akan merasa tidak ada lagi artinya lingkungan sosialnya karena tidak ada lagi yang mengerti dan memahami dia. Beberapa kasus menyedihkan bahkan orang orang mulai menghakimi dia daripada menolong. Menyedihkan.

4.Melukai diri sendiri dan berbicara soal kematian. Ya, orang suicidal merasa dengan melukai diri sendiri dia dapat mengurangi rasa pedih di dalam jiwanya. Mulai membicarakan bagaimana konsep kematian menurut dirinya, bagaimana
cara mematikan untuk membunuh dirinya sendiri.

5.Membenci diri sendiri. Semakin dia merasa sendiri, semakin dia membenci dirinya sendiri. Hal hal tersebut terakit pemikirannya yang mendorong ke hal yang lebih buruk. Menyalahkan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi terhadapnya selama ini.

Teman, jika kalian melihat teman kalian di sosial media atau kehidupan nyata mulai mengeluh tentang hidup dan persoalan atau masalahnya, dengarkan mereka, kasih waktumu untuk mereka, beri mereka support, jadilah pendengar yang baik. Kadang kita ga sadar, perbuatan kecil kita mungkin bisa menyelamatkan nyawa seseorang. Untuk menolong beberapa teman yang mempunyai suicidal thoughts, mungkin bisa melalui cara cara berikut.

1.Mempersiapkan diri sendiri. Siapkan dirimu untuk mendengar, tidak menghakimi, tidak berasumsi pribadi, apalagi membenci. Ber empatilah. Ingat, kita bisa menyelamatkan nyawa seorang teman dengan mendengarkan keluh kesahnya dan ada saat dia membutuhkan seseorang untuk menemaninya.

2.Sebisa mungkin membuat dia merasa aman. Buat dia nyaman dan aman dengan kehadiranmu. Dengan membuat dia merasa aman, itu akan mengurangi sedikit beban dan pikiran untuk bunuh dirinya. Dia merasa bahwa ada seseorang yang masih memperdulikan tentang dirinya. Dan selalu awasi dia ketika kamu jauh, dan beri dia luang.

3.Motiviasi dia untuk mendapatkan bantuan Profesional (Psikiater/Psikolog). Bantu dia, bawa dia ke Psikiater atau Psikolog. Temani dia di masa masa itu, jangan pernah tinggalkan dia atau bahkan mengabaikan dia. Dia butuh seseorang, dan seseorang itu adalah dirimu teman.

Untuk siapapun yang lelah dengan kehidupannya dan memeliki kecendrungan terhadap Pemikiran Bunuh Diri, tolong, carilah pertolongan, hubungi teman teman terdekatmu, dan ceritalah. Jangan pernah biarkan dirimu melewati masa itu sendiri. Sampai kapanpun, percayalah, kalian tidak akan pernah sendiri. Ada aku dan teman temanmu. Kita bisa berteman dan saling menudukung satu sama lain. Kalian tidak sendiri.

Tulisan ini saya buat karena saya pernah mengalami itu semua, saya pernah berada di posisi kelam itu. Dan jujur, beberapa kali saya masih memiliki perasaan dan pikiran pikiran itu. Tapi berunutungnya saya memiliki sahabat sahabat dan orang orang terdekat yang saat ini sudah mulai mengerti dan memahami pentingnya kesehatan mental.

Bagi kalian yang membutuhkan konseling online atau beberapa hal tentang kesehatan mental mungkin bisa coba kunjungi teman teman ini

Into the Light: https://www.intothelightid.org/
Pijar Psikologi: https://pijarpsikologi.org/
Sehat Mental id: https://sehatmental.id/

Mari kita lawan stigma buruk di masyarakat bersama.

Duan.
Samarinda, 28 Januari 2019

Rindu, Mimpi dan Tanda Tanya

Baca tulisan ini sambil dengerin lagu ini yuk

Wish You Were Here – Neck Deep (Cover)
Atau
Wish You Were Here – Endah n Rhesa

Tulisan kali ini terbuat karena aku baru saja melihat teman temanku mulai sidang dan lulus kuliahnya. Ah, senang dan lega rasanya melihat mereka. Sebenernya ada rasa iri juga sih, ya tentu saja hahaha.

Melihat teman teman berjuang dengan skripsinya, terutama sering mendengar cerita ikin dengan skripsinya, aku merasa sangat iri. Lihatlah aku di sini, minum obat setiap hari pagi dan malam, berlawankan mimpi buruk hampir di setiap malamnya, melawan ego dan benci diri sendiri, mengutuk diri sendiri karena sudah menjadi seperti ini. Ah, sial. Tapi aku harus berusaha juga, seperti teman temanku di Malang sana. Ayo berjuang bersama. Dulu kita selalu senang senang bersama, masa kita mau bersedih juga terus menerus. Semangat untuk siapapun yang membaca tulisan ini.

Walaupun pada akhirnya siapapun yang membaca tulisan ini, aku rasa dia adalah sahabat dan teman terdekatku. Untukmu, semangatlah terus, jika merasa lelah, menepi lah, bersandarlah dengan orang yang menurutmu layak untuk kamu sandari, dan kamu merasa nyaman dengannya, jangan menyerah karena di ujung sana ada kebahagiaan yang menunggu mu. Kesuksesan pun menyertaimu jika kamu selalu berusaha.

Apapun yang terjadi padamu, semangat lah selalu, liat aku di sini sedang berusaha mengejar mimpi yang tertunda dan bertanda tanya ini, kau pun harus sama, kejarlah mimpi mimpi itu. Jika kau merindukan ku seperti aku merindukanmu, lihatlah bulan, karena aku akan menunggu mu di sana dan kita akan bertemu. Cintai dirimu, hargai dirimu karena sudah melalui banyak hari menyebalkan dan menyedihkan, dan liatlah dirimu yang selalu berjuang itu. Semangat skripsinya teman teman, ayo berjuang.

“Make your dreams fulfilled, and don’t forget to take me with you someday”
-Endah n Rhesa

1410529417130

Selamat Lita, udah S.Ikom duluan

1410529452592

1410530015765

1410530059259

Samarinda, 24 Oktober 2018

 

 

Kadang, hidup memang benar – benar brengsek

22 Februari 2018 RS AWS Samarinda, Edelweis 15.

And, I’m sad. Again.

Halo

aku menulis lagi setelah sekian lama dari tulisan terakhirku

Sebenernya males sih, tapi pengen. Gimana dong tuh anjeng

Oke serius

Tulisan kali ini tentang cerita beberapa bulan terakhir yang ku alami aja ya?

Jadi, awal bulan Mei aku terpaksa harus balik ke Samarinda. Padahal waktu itu lagi asik di Malang. Emang bener sih, aku harusnya kuliah dari bulan Maret sampe Juli. Tapi ga pernah 1 kelaspun aku masuk. Karena ya, setiap kali mencoba memberanikan diri pergi masuk ke kelas, aku selalu dapat serangan panik. Nih, ceritain sekali ya, waktu itu ada kelas AIK jam 1 Siang, aku udah semangat banget mau kuliah, berangakat dari kontrakan makan dulu jam set 1, pokoknya udah semangat lah. Kelas AIK itu kelasnya di Masjid gitu, jadi waktu itu udah tiba di masjid setengah jam sebelum kelas dimulai. Ini pertama kalinya akan masuk kelas yang beda angkatan, karena ini sebenernya kuliah ngulang gitu. Waktu itu aku gatau kelasku, jadi nanya dulu ke mba mba penjaga di masjid. Ketika aku menuju kelas, udah mulai nih degdegan nya, begitu melihat kelas dan temen temen baru yang ga kukenal satupun, mulai nih panik. Tapi masih belum parah banget, aku ga berani samperin. Pokonya merhatiin dari jauh aja lah pokoknya. Kemudian, gak lama, dosennya dateng, wah kacau tandanya harus buru buru masuk kan. Eh tau ga apa yang terjadi? tibatiba pas mau masuk kelas, ive got panic attack. Parah banget, kepala tiba tiba pusing, keringat bercucuran, perut tibatiba mual. Alih alih masuk kelas, aku malah lari pergi ke toilet. Muntah muntah sampe 5x, inget banget baju sampe kotor dan basah karena keringet. Waktu itu mikir, dengan kondisi seperti ini, udah ga mungkin rasanya masuk kelas. Yaudah deh, ambil air wudhu, shalat 2 rakaat, lalu pulang ke kontrakan. Waktu itu gaada yang tau kejadian itu, aku belum ada cerita ke siapapun. Setelah beberapa hari kejadian itu, mau masuk kelas lagi malah mengulangi hal yang sama. Sial. Aku benci diriku. Sejak saat itu, ga pernah masuk kelas alias ga pernah kuliah lagi akunya. I’m sorry.

Setelah itu, diriku dipenuhi kebohongan. Aku selalu bohong ke temen temen bahkan bapak ibu, aku berkata bahwa aku kuliah dan baik baik saja. Padahal aku sekarat akan diriku.

Kemudian, 1 bulan hidup dalam kebohongan, akhirnya aku memberanikan diri konfrontasi ke teman paling dekatku dulu ikin, tio dan wina. Waktu itu ingat sekali, aku pertama cerita soal kebohongan bahwa gak kuliah itu ke Tio, aku tau tio gak bakal marah, malah dia menyarankan aku untuk membiacarakn hal ini ke orangtuaku. Waktu itu yang marah adalah Wina. Maaf ya wina, aku bohong sama kamu. Terakhir, konfrontasi ke Ikin. Waktu itu, butuh waktu seminggu baru aku memberanikan diri ngomongin hal ini ke Ikin. Aku bilang ke dia, aku butuh bicara dengan kamu. Ingat sekali, aku ngajak ikin ke Indomaret di daerah Belimbing pukul 2 dini hari. Sebelum itu, aku sempat ada beberapa masalah besar sama ikin. Kami bertengkar hebat, sampe aku melarikan diri ke teman SD ku saat itu. Pendek cerita, akhirnya ceritalah semua kebohongan itu ke Ikin. Dia gak marah, malah dia bilang dia udah tau dari gerak geriku kalau aku bohong dan ga pernah kuliah. Ckckc, jago kamu cuk. Singkat, akhirnya selesai sudah confess ke ikin. Selesai masalah? tidak, harus cerita juga ke orangtua.

Beberapa hari setelahnya, aku ceritakanlah semuanya ke orangtuaku. Akhirnya, disuruhlah pulang ke Samarinda secepatnya.

Dalam kurun waktu itu, aku seringkali kambuh depresinya daripada manik. Hampir setiap malam, dini hari, hingga subuh aku menangis. Sudah 3x lenganku berdarahan hebat karena aku lagi lagi mencoba membunuh diriku. Aku sedih. Aku penuh kesedihan. Aku terluka. Aku membenci. Rasanya begitu sepi, sunyi, rasanya hanya ada aku sendiri saat itu. Tidak ada yang menyayangi, semuanya menyalahkanku.

Ya, semua ini memang salahku.

Balik ke Samarinda, apakah semuanya akan baik baik saja? Tentu tidak, karena dasarnya aku belum benar benar sembuh. Di mana pun aku berada, Bipolar bersamaku.

Selama sebulan di bulan Ramadhan, aku berusaha menutup kambuh depresiku sendiri. Aku tidak ingin keluargaku tahu bahwa aku depresi. Menyimpan semuanya sendirian, begitu menyedihkan, menyakitkan. Ditambah, saat itu aku sedang dalam masalah komunikasi sama Wina. Sehingga, aku tidak punya teman untuk berkeluh kesah saat itu. Aku benar benar sendirian.

Bulan ramadhan berlalu, aku “terlihat” sehat dan normal.

Hingga suatu minggu, aku kambuh parah sekali depresinya. Sebelum itu manik yang menganggu. Tiba tiba, dihajar langsung sama depresinya. Sesak. Seminggu, selalu sebelum tidur dadaku sesak sekali, sakit, rasanya seperti menahan duri. Hingga diujung minggu, aku sudah tidak sanggup lagi dan di bawa ke IGD Rumah Sakit Jiwa. Sialnya, aku tidak bertemu Psikiater, malah adanya Dokter Umum saat itu. Dia bilang aku cuma maagh kambuh. Fuck.

Hingga detik ini ketika tulisan ini ditulis, ya, aku kambuh kambuhan. Entah itu manik, terlalu bersemangat hingga tidak bisa tidur berhari hari, atau itu depresi, tidak bisa beraktivitas hingga berfikir jernih.

Ini lah diriku

Aku, sendiri.

Ini adalah lirik yang kutulis ketika masa masa menyedihkan itu kulalui.

 

“There’s a riot inside my head”

This room is quiet
and theres a riot
inside my head
inside my head

The sun can go down
But feelings will not drown

Yesterday just like today
Tomorrow will be the same
I stopped here dying in between
No more hate
No more lonely
After this, its all over

im damaged
im broken
my pain in silence
its killing me
its killing me

im tired and im stopped here
i stopped hoping
i stopped wishing
after this, its all over

 

 

Sekian untuk kali ini.

Duan
Samarinda, 1 September 2018

Untukmu Yang Menyelamatkan Hidupku

Untukmu,

Menurutku, kau pantas memperoleh dunia ini. Aku tau, kau pasti tidak menyadarinya. Aku selalu berpikir, apa yang sudah aku lakukan untuk bisa mendapatkanmu dalam hidupku.

Kau mengajariku apa sebenarnya arti dari kata Setia. Tentu saja, aku sudah mati bunuh diri sejak lama kalau saja tidak ada kau dalam hidupku. Kau memasuki hidupku tanpa tujuan untuk memperbaikinya, tapi kamu melakukannya, bahkan tanpa kau sadari.

Kau adalah manusia, yang menyalakan semua api yang padam.
Kau adalah manusia, yang menghidupkan semua yang mati.
Kau adalah manusia, yang meringankan semua yang berat.

Aku membutuhkanmu. Bahkan orang lain pun.

Kau membuatku tertawa bahagia ketika aku sedang sedih, dan kau memaafkanku atas kalimat yang kuucapkan ketika aku sedang marah.

Kau percaya padaku, bahkan ketika aku tidak mempercayai diriku sendiri.
Kau mencintaiku, bahkan ketika aku tidak mencintai diriku sendiri.

Kau adalah Jiwa yang paling indah yang pernah aku kenal. Karena cintamu tidak pernah takut, tidak pernah ragu, atau lemah. Itu adalah “Force” yang paling kuat yang pernah saya rasakan, tidak bisa dihancurkan dan tanpa syarat.

Kau jauh lebih kuat dari sesuatu yang pernah kau bayangkan.

Kau jujur dan penuh perhatian. Kau lucu dan cerdas. Kau kuat.

Kau mengubahku menjadi baik, dan jangan sampai seseorang mengubahmu menjadi sesuatu yang buruk. Jika itu terjadi, aku akan memburu dan membunuhnya.

Mungkin kau tidak percaya dengan dirimu yang aku tulis di sini, tapi percayalah, itulah yang selalu kulihat ketika aku melihatmu di setiap hariku.

Itulah mengapa kau berhak mendapatkan Dunia. Karena kau mengubahnya. Karena kau mengubah Dunia. Duniaku.

Ditulis dengan Cinta,
Dari Jiwa Yang Sudah Kau Selamatkan.

Malang
31 Maret 2018

 

” JAUH “

Hi…

Sebenernya saya lagi ga mood untuk nulis, tapi sepertinya ini harus ditulis walau hanya sedikit. Lesgo!

Beberapa hari ini saya kambuh. Kambuh Bipolarnya, kambuh depresinya, lebih-lebih kecemasannya. Hampir setiap malam, di pagi buta, saya selalu menangis. Mengingat apa yang pernah terjadi, dan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi. Salah satunya yang parah hari ini, tidak tau esok hari apakah masih seperti ini atau tidak. Saya mulai menyayat pergelangan tangan saya lagi, dengan harapan mengurangi rasa sakit yang saya rasa. Rasanya tidak seperti sakit di fisik, ya, memang benar, rasa sakitnya di jiwa. Seperti hati ini remuk, sakit sekali, perih rasanya.

Hari ini juga, saya mengabaikan panggilan telfon dari ibu sebanyak 23x. Menghabiskan hampir 15 batang rokok. Dan mulai menyayat lagi. Memikirkan bagaimana cara mengakhiri hidup ini. Dan pikiran ini selalu terngiang ngiang di dalam kepala saya.

Ya, beginilah rasanya. PERIH.

Tulisan ini akan saya akhiri dengan Tulisan di bawah ini. Terimakasih.

Berjudul:

“JAUH”

Aku tak berdaya
Aku terluka
Ini jiwa, kau pikir apa?
Aku bernafas, namun dalam cemas dan takut

Hey Tuhan yang Kuasa, aku ingin pergi
Aku ingin ke tempat yang Jauh
Aku ingin pergi
Aku ingin pergi jauh

Hey Tuhan yang Esa, apa yang kau rencanakan?
Jangan pernah berkata aku tidak sendiri,
Karena pada akhirnya, aku menderita pun sendiri
Kemana perginya mereka? Entah, kau cari tau saja sendiri

Aku ingin pergi, ke tempat yang Jauh.
Jauh dari sini, aku membencinya
Jauh dari hati, dia membencinya
Jauh dari Aku, akupun Membenciku.

 

– Malang, 30 Maret 2018

Serendipity

Hai, di subuh ini saya ingin bercerita tentang perjalanan saya di 1 tahun terakhir ini. Tahun ini bisa dibilang tahun paling melelahkan bagi saya. Btw, maaf, saya menulis ini sambil youtube-an dan merangkai playlist dan sedikit migren sebenernya. Tapi, demi dedikasi tinggi terhadap dunia penulisan cerita pribadi, mari kita hajar. Haha berlebihan. Cerita ini berdasarkan seingatan saya aja ya, hehehe.

Mari mulai.

Pertama, saya pengen ceritain soal band kesayangan saya nih, apalagi kalau bukan Daxos. Daxos itu lucu, punya target yang sok pengen cepet diselesain, tapi tetep kadang stuck di tempat yang sama, walaupun perkembangannya berjalan lambat, tapi niscaya pasti kok. Awal tahun, daxos dapat panggung yang cukup menarik, sudah lama daxos gak manggung, dan ketika dapat panggung, apresiasinya luar biasa, kami seneng bukan main, dapet apresiasi seperti itu, rasanya pengen berkarya sama daxos terus, rasanya gamau berhenti manggung kali itu, semua senang, semua bahagia.

IMG-20170129-WA0026

Bayu ngapa dah -_-

IMG-20170129-WA0025

Daxos emang keren

Di tahun ini juga, kami recording lagu ke 5 (kalau gak salah) btw, banyak juga ya udah lagu daxos ini, keren memang. Nah, recording kali ini, kami puas banget, asli puas. Karena di studio yang suasananya sepenuhnya baru, dengan operator baru yang super (singkop) fun dan hawa hawa recordingnya menyenangkan, walaupun saya tidak secara langsung take bass untuk recording kali ini, untung ada rio ya yang ngisi, keren jadinya. Yah, semoga daxos tahun ini bisa recording lebih banyak materi lagi, dan albumnya bisa cepet diselesaikan, semangat daxos, hajar terus jalanan. Hail Daxos!

 

IMG_0066

SiapTake!

IMG_0063

Bayu nih kenapa sih -____-

Kedua, saya mau cerita soal…. sek sek, lali, buka catatan sek…
Oalah, saya mau ceritain dikit soal keluarga saya. Saya mulai dengan…

IMG-20170206-WA0000

Tentu saja foto my Boss hehe

Entah apa yang terjadi, tahun ini keluarga saya tuh melewati banyak fase fase menyenangkan, walaupun gak dikit juga hal hal yang tidak mengenakan. Dimulai dari kondisi kesehatan bapak yang mulai digrogoti penyakitnya, sampe dimana saya didiagnosa memiliki gangguan mental. Menyedihkan, tetapi saya gamau bahas yang menyedihkannya ah, kita bahas yang menyenangkannya saja. Walupun tahun ini gaada liburan seperti tahun tahun sebelumnya, tapi saya merasa saya banyak menghabiskan waktu yang berharga bersama mereka. Saya ingat sekali, dimana saya berkumpul bersama kakak dan adik adik saya, membicarakan hal hal yang tidak pernah kami bicarakan sebelumnya, indah rasanya, menyenangkan, berharap bisa memiliki banyak waktu waktu seperti ini. Nah, di semester kemarin juga, bapak dan ibu saya mengunjungi saya di Malang, nah ini dia, di mana saya merasa menjadi anak satu-satunya, hahahaha sumpah rasanya menyenangkan sekali, minta apapun langsung dikabulkan saat itu juga. Jadi kangen mereka ketika nulis ini. Saya tahun ini benar benar menghabiskan banyak waktu sama mereka, juga sama saudara saudara saya yang lain.

Jpeg

Semoga bapak dan ibu sehat selalu, juga saudara saudara saya, semoga semuanya selalu bahagia. Aamin.

IMG-20170205-WA0002

Ena loh renang

Lanjut, yang ketiga nih.

Nah, yang ketiga ini saya mau ceritain soal Create Production, Tio Utomo, dan Wina Karina Alexandria. Mari…

Create Production, dih ribet bener dah nulisnya, itu adalah kelompok praktikum av 2 saya. Isinya ada Tio, Ikin, Wina, Halida, Saya dan Danwanus. Ini kelompok ajaib, biar kinerjanya slow, tapi pasti gituloh, nyantai nyantai mematikan gimana gitu. Menyenangkan sih waktu kelompokan sama mereka ini, karena kita kebanyakaan apa apa dibawa santai aja, jadinya ya gitu, nyanteeeee. Udah ah cerita soal Create, gausah banya banya. Oh iya, gara gara Create juga, saya ketemu pasangan keren, yaitu mbaknya Tio dan Pacarnya, mas Swedho dan mbak Nina. Mereka ini keren, entah kenapa kalau berada di deket mereka bawaannya bahagia aja, seneng. Pasti karena orangnya pinter, funny, asik, jadi bawaannya slow slow lucuk gitu deh.

IMG-20170523-WA0003

Create x Mas Swedho dan Mbak Nina. SIAP!

Lanjoootttt. Di semester ini juga, saya lebih mengenal dekat teman deket saya. yokpo seh kalimat e. Haha. Namanya Tio, mungkin karena selama ini kami sukanya bercanda mulu, jadi kurang tuh ada obrolan yang serius. Nah, di semester ini, pribadi asli Tio mulai keliatan sama saya, gimana pola pikir dan cara pandang dia terhadap dunia dan kehidupan, as always bahan favorit saya untuk dibicarakan. Tio ini orangnya menurut saya dimana dia tidak ingin hal hal yang buruk untuk dipertontonkan, maunya dia cuma munculin hal hal yang bahagia saja. Kadang sedih ketika saya gabisa selalu ada di waktu sedihnya tio, dia itu jarang terbuka orangnya, jadi rada susah. Tapi, saya sangat sangat sangat bersyukur punya tio sebagai sahabat saya, entap apa jadinya hari saya tanpa jokesnya tio ini. dih ga kebayang coy. lebay? biarin. pret. Ya kan, Yok? hahaha. Tio, semoga kamu bahagia selalu dengan kondisi kehidupanmu, aku tau kamu adalah orang yang kuat. Inget, aku selalu di sini untukmu, apapun yang terjadi.

IMG-20170704-WA0002

SIAP PAK MANDOR!

Setelah Tio, semester ini, saya juga bersyukur bisa memiliki Wina Karina Alexandria sebagai sahabat saya. Wina ini orangnya lucu lucu imut (ngeselin kadang) mirip (maaf) cino cino yokpo ngono. Wina datang di hidup saya ketika ada seseorang yang berharga di hidup saya yang saat itu “hilang” dari hidup saya. Waktu itu juga, saya berdoa, saya ingin punya sahabat yang benar benar ada. Dan mungkin Tuhan mengabulkan doa saya, yaitu Wina. Wina adalah orang yang hadir pertama kalinya ketika saya dijatuhi sebuah masalah, masalah apapun itu, wina selalu ada. Wina tau benar apa yang terjadi terhadap saya. Entah apa yang terjadi dengan saya beserta masalahnya kalau sudah tida ada Wina. Memang sih, ada Ikin (tulisan tentang ikin bisa dibaca di sini ) tapi tetep selalu Wina lah orang yang menolong saya. Gak kebayang hidup saya tanpa wina saat itu, dengan kondisi kejiwaan, pikiran, dan emosi yang saat itu sebegitu mengerikannya bagi saya. Oh iya, kemarin juga saya ikin dan tio sempet dibuat degdegan setengah mati sama Wina ketika dia harus operasi. Kami udah ketakutan dan kepikiran dia terus, eh dia dengan santainya ngirimin foto boneka bernama “kecil”. emang dah orang ini ngeselin lucu lucu imut. Wina, terima kasih sudah mau membantu saya, menerima saya sebagai sahabatmu, dan menyelamatkan hidup saya. Saya tau, wina wanita terkuat yang saya temui, dengan segala macam lika liku hidupnya, tapi saya tau, wina kuat! selalu bahagia dan senantiasa dilindungi Tuhan Winaku, terimakasih.

IMG-20170701-WA0000

Oke, lanjut ke cerita selanjutnya.

Ini udah keberapa ya? hahaha

Saya mau ceritain dikit tentang penyakit saya nih. Jadi, semester kemarin adalah semester terberat saya, untung ada tio ikin dan wina saat itu. Semester kemarin, saya didiagnosa Bipolar Psikosis, dengan depresi berat. Singkat saja, hari hari saya sebelum mengkonsumsi obat dari dokter, sangat berat seperti neraka, ada neraka di dalam kepala saya, ada suara yang tidak pernah berhenti berbicara, dan ada bayang bayang tentang kejamnya Dunia. Semua itu jadi satu, di dalam kepala, dan berbusa, rasanya selalu ada menggentayangi. Itu baru depresi, belum bipolarnya. Bipolar ini penyakit atau gangguan mood, di mana mood saya bisa berubah berubah disaat yang tidak tentu. Ada dua episode, yaitu manic dan depresif. Manic, di mana perasaan saya bisa sangat gembira, tidak merasa kantuk, dan memiliki banyak ide ide yang rasanya semuanya bisa saya kerjakan dalam satu malam. Depresif, episode sebaliknya, di mana saya sangat sangat sangat bisa membenci diri saya sendiri, orang terdekat saya sendiri, dan hal hal buruk lainnya. Nah, ditambah lagi ada gangguan Psikosis, semacam Skizofrenia gitu, saya biasanya suka halusinasi, kadang saya bisa melihat sesuatu yang orang lain gabisa liat, atau mendengar bisikan bisikan yang bikin saya ngobrol dengannya. Btw, saya sudah 3x mencoba bunuh diri di dalam episode depresif ini. Dan Fyi, saya juga sudah 3x di rukyah loh. Hal hal yang bisa mengurangi “kambuh”nya saya adalah dengan menulis, menonton, dan mendengar. Menulis tentang emosi adalah favorit saya, dan lagi lagi wina yang terbaik, dia bikinin saya note bernamakan duan, kecil dan ringkas, membahagiakan.

IMG-20170705-WA0001

Lucu kan?

Wina juga kasih saya boneka lucu, saya namain Po-Yo, karena dia Po, dan dia rapper Yo!

IMG-20170621-WA0005

Hobi menonton saya hampir terhenti sejenak ketika saya nonton film Split, gilak ini film bikin saya gamau nonton film lain selain film ini. Oke, lebay.

IMG-20170612-WA0005

Kata temen saya, saya mirip Kevin. Masa?

Oke, sekian cerita soal penyakit saya, singkat saja ya. Kita bahas penyakit lain kali saja lagi hehe. Tapi beneran deh, gara gara penyakit ini, saya bersyukur juga, rasanya karena sakit gini saya bisa jadi lebih deket dengan keluarga keluarga saya.

Oh dikit nih, selipan cerita. Jadi, ceritanya waktu saya liburan ke Jogja kemarin, saya ketemu dong sama adik saya tercinta, namanya Uni. Kami besar bersama saat itu, tapi apa kata hidup deh, kami mulai “jauh” saat udah mulai SMA. Dari saya TK, hingga saat ini, obrolan saya dan Uni waktu itu adalah yang terbaik setelah sekian lama. Parah, kami bicarain hal hal yang keren dan indah, parah kan. Jarang jarang ada momen kaya gitu. Terimakasih ya Uni atas waktu, obrolan serta motornya. Nanti kita ngobrol lagi ya

Oke, topik terakhir nih

Apalagi kalau bukan Hore Production! Hellyea!

Jadi, ceritanya, sebelum semester ini dimulai, hore itu rencanain mau liburan bareng, liburannya ke Jogja. Eh gataunya beneran diseriusin sama anak anak, jadinya kami berangkat deh, minus Candra, huhu. ASLI SUMPAH GAK LEBAY lebaran kemarin, eh kok lebaran. Liburan kemarin tuh bener bener menyenangkan sumpah, asli parah parah. Nanti saya ceritain deh ya tentang liburan di lain waktu.

Hore ini isinya orang orang yang adalah isinya semangat saya. Asli, kalau gaada mereka saya gakmau kuliah semester ini, jamin dah. Hore itu juga kerjanya santai, tapi pasti. Keren kan emang kelompok kelompok saya nih, santai tapi pasti semuanya. Yoi.

1507197790081

Tentu Saja Hore Yang Asli adalah Ini!

 

 

Karena saya sudah mulai lelah nih, cerita tentang Hore dan Jogjanya saya ceritain lain kali ya.

Mau bikin resolusi 2018 tapi kok rasanya males dan bacot ya -__- gajadi deh.

Terimakasih yang sudah baca, mungkin sewaktu waktu saya akan memperbarui tulisan ini, tergantung mood. Saya tutup dengan foto bahagia saja ya

1508901392994

Ilmu Komunikasi C 2014 UMM

1510077529483

HORE lagi

Malang, 1 Januari 2018.

 

 

 

Tentang Luka

Halo, sudah lama tidak menulis di blog ini. Saya ingin cerita tentang Luka sebenernya, dan tentang diri saya beberapa waktu terakhir ini. Mari…

Jadi, sudah hampir 3 bulan dari check up terakhir saya bersama psikiater, kalau boleh jujur, tidak ada hal yang terlalu berubah secara signifikan, saya masih teratur minum obat, tetapi kok rasanya tidak terlalu berpengaruh ya. Saya masih merasakan cemas, takut, tidak percaya diri, dan banyak hal buruk lainnya terhadap diri saya. Menyebalkan. Saya juga tetap masih menyenangi apa itu yang namanya Self Harm atau Self Injury atau Melukai Diri sendiri. Saya ceritain dari awal deh ya. Gini ceritanya..

Jadi, pada awalnya saya gatau apa itu self harm, gimana caranya, dan apa rasanya.
Pertamanya tuh, saya sering garuk garukin badan saya hingga merah ketika mandi, atau membenturkan kepala ke tembok yang lumayan kuat, itu masih hal biasa yang tidak terlalu berpengaruh menurut saya. Kemudian saya sering “ngobrol” sama kepala saya sendiri, katanya dia, kalau liat benda tajam seperti gunting, pisau, atau silet rasanya deket. Entah, aneh saja rasanya, awalnya saya senang ngumpulin benda benda tajam ini, dan kemudian pikiran saya berkata “hei, kamu merasa emosional beberapa hari terakhir kan? coba kamu lukai dirimu dengan benda tajam, itu akan mengurangi rasa sakitnya” hebat sekali rasanya ada kepala yang bicara seperti itu di dalam pikiran saya.

Beberapa hari setelahnya, saya sangat susah tidur, kemudian saya mendengarkan lagu saja, tiba tiba teringat, bahwa saya mempunyai cutter yang masih tajam, saya mulai melukai diri saya, saya mulai mengiris pergelangan tangan saya, awalnya tidak berdarah, hanya berubah berwana merah saja. Tidak ada rasa sakit yang saya rasakan, rasanya menyenangkan. Keesokan harinya, hal serupa berulang lagi. Saya tidak bisa tidur, hingga jam 3 pagi, saya mulai main cutter lagi, kali ini saya mengiris hingga berdarah, rasanya puas melihat tangan saya kiri dan kanan saya berdarah. Rasanya ada emosi yang terluapkan, ada perasaan perasaan sedih yang berkurang, ada perasaan lega yang begitu besar. Awalnya, tidak ada rasa sakit, sampai saya mandi, baru terasa sakitnya hahaha gilak. Pertama tama, saya tidak memperlihatkan luka luka ini terhadap orang orang terdekat, karena saya takut. Namun, saya tetap memperlihatkannya kok, dan awalnya mereka mereka ini masih biasa saja tanggapannya, cuma heran saja kenapa saya melakukannya. Susah dijelaskan sebenarnya kenapa saya melakukan ini. Bisa dibilang, saya menyukai dan menikmati melakukan ini, melukai diri sendiri. Oh iya, pertama kali saya melakukan ini sekitar 7 bulan yang lalu, di mana saya di diagnosis memiliki gangguan mental.

Dan terakhir saya melakukan ini, sekitar seminggu yang lalu.

Orang orang terdekat saya mulai memarahi saya ketika mendapati lengan lengan saya terluka. Kalau boleh jujur, saya juga tidak ingin rasanya mereka marah marah ke saya, tapi apa boleh buat, saya selalu ingin melakukannya ketika saya kambuh, ketika tidak ada orang yang di dekat saya, tidak ada orang yang bicara dengan saya, tidak ada cerita yang bisa saya ceritakan, dan hal hal tentang kesendirian lainnya. Maafkan saya, saya menyukai hal ini, hal ini entah mengapa bisa menghilangkan rasa sakit saya, dan saya rasa ini menjadi adiktif bagi saya. Saya memohon maaf sebesar besarnya, bukannya saya tidak mendengarkan omongan kalian, tetapi saya tidak bisa menahan rasa ingin melukai diri sendiri. Saya tidak kuat, saya lemah. Maaf ya. Luka luka ini adalah representasi dari rasa sakit yang saya rasakan di dalam jiwa saya. Saya memang luka. Dan setiap luka ini, ada ceritanya masing masing. Setiap luka mempunyai kisahnya, ketika saya melukai diri saya, tandanya ada sakit yang tidak bisa lawan, ada perasaan kecewa, ada perasaan takut, ada cemas dan derita di dalamnya.

Baru-baru ini saya baru membaca artikel, dan saya baru tau, ternyata suka menyayat ini termasuk dalam kelainan Psikologis.

Oke, ceritanya sampai sini dulu ya. Hehe. Terima kasih.

Sekali lagi, saya minta maaf. Saya tidak bisa berjanji saya tidak akan melakukannya lagi. Saya minta maaf.

Malang, 8 Desember 2017